Keasingan

Trattoria-Mercatto

oleh Muhammad Fahmi Lubis

Kau memutuskan untuk berkunjung ke kafe baru di kota itu – dianggap baru karena kau memang belum pernah ke sana. Arsitektur klasiknya, tanaman hiasnya yang mencolok, dan beberapa meja kursi yang kaulihat dari jendela berhasil mengundangmu untuk masuk. Sedikit ramai, ada beberapa meja kosong yang langsung berada dalam pandanganmu ketika kau melewati pintu dan beberapa ‘kring’ terdengar. Kau menunggu dengan orkestra percakapan orang-orang yang lalu-lalang di kepalamu. Tak lama pesananmu datang, yang kaupikir sebagai standar sebuah kafe, dilihat dari menu ini: kopi dan pai. Baru saja kau memegang cangkir kopi tersebut, seseorang memegang pundakmu.

“Permisi, boleh saya tahu nama Anda?”

Dengan refleks kau menjawab.

Dia mengangguk sebentar. “Aku sudah lama mencari-carimu.”

Pergantian kata saya menjadi aku membuatmu agak resah. Dia asing bagimu. Tapi mungkin dia adalah teman atau saudara lama, lama sekali hingga menjadikannya asing bagimu. Meski kau amati rambut, wajah, mata, tubuh, dan gerak-geriknya, sia-sia pengamatanmu itu, dia tetap asing.

“Maaf, Anda siapa?” kau mulai meraba kantong celanamu dan segera menaruh tasmu di sisi yang lain.

“Aku adalah orang asing,” jawabnya dengan rekahan senyumnya kaulihat.

“Kenapa?”

“Karena, kau menganggapku asing.”

“Maksudku kenapa kau mencariku?”

“Karena kau juga asing bagiku.”

Kau mulai menyumbang prelude untuk orkestra itu. Andante, namun agak gesa. Sementara orang itu bagaikan pemain sekaligus konduktor khusus untukmu. Kau belum pernah melihat langsung seorang konduktor, apalagi yang ditugaskan untukmu seorang. Dia asing. Dan dia mencari suatu nada darimu. Jawaban terakhirnya membuka gerakan musik yang baru.

“Mereka juga asing, kenapa aku?”

“Karena kau menganggap keasingan itu lain dari mereka. Bukannya kau menganggap semuanya asing?”

Kau tidak menjawab. Apalah gerangan menjawab pertanyaan dari orang asing yang sok tahu tentang dirimu, sementara kau benci orang yang sok tahu. Sebenarnya kau ingin keluar dari arahan konduktor yang tidak jelas itu. Kau ingin keluar dari permainan orkestra itu. Tapi kopi dan paimu belum tersentuh oleh bibir dan lidahmu. Kau sendiri yang menukarkan waktumu untuk bermain di orkestra itu dengan kopi dan pai, hanya saja kau bertemu dengannya. Dan akhirnya kau mengecup cangkir kopi itu, dan sendok perak dengan potongan pai renyah mondar-mandir di mulutmu.

“Kau tidak pesan apa-apa?”

“Aku tidak makan dan minum.”

Jeda. Lalu orang asing itu bertanya.

“Apa… akhir-akhir ini kau kehilangan seseorang?”

Kau tidak menjawab lagi.

“Menurutmu, yang membuat seseorang mati itu apa?”

Kali ini kau menjawab.

“Orang yang kehilangan nyawanya, atau hatinya.”

“Apakah mereka benar-benar mati?”

“Mereka bisa ‘hidup’ di pikiran atau hati orang lain.”

Orang asing itu menyenderkan punggungnya dan melihat ke luar jendela. Kau pikir memang benar dia mencari sesuatu, meski kau menjadi korban pembicaraannya, dan mengklaim kaulah yang dia cari. Kau tidak perlu ikut melihat ke luar. Orang lalu-lalang bukanlah sesuatu yang penting untuk diamati.

“Jika kau tidak akan pernah melihat seseorang itu lagi. Apakah mereka mati?”

“Ya.”

“Aku telah banyak kehilangan. Pastinya ini dialami oleh semua orang tapi… aku mulai berpikir. Aku ingin menghidupkan mereka lagi.”

Kau terdiam, meminum kopimu kembali dan menaruhnya.

“Dulu aku mengenal orang-orang baik. Dari lahir hingga saat ini. Entah itu teman, kenalan, saudara, guru, orang-orang tua, pelanggan yang selalu datang, dan lainnya. Tapi mereka mati.”

“Kau tidak apa-apa?”

“Jika kau sudah tidak bertemu dengan orang-orang yang dekat denganmu dalam waktu yang lama. Dan kau tidak memiliki kepastian apakah kaudapat bertemu dengan mereka lagi. Apakah mereka sedang mati?”

“Jika tidak memiliki kepastian, apa salahnya memikirkan mereka hidup?”

“Bagiku mereka mati, aku membiarkannya mati di hidupku. Ketika kau melupakan mereka, atau mereka menjadi tidak penting lagi bagimu, mereka mati. Mereka yang telah menjadi bagian dari hidupmu, mati. Sebagian hidupku juga mati bersamanya.”

“Tapi kau masih mengingat mereka. Kau bilang kau ingin menghidupkannya kembali, kan?”

“Setiap orang memiliki penyakit ini. Orang-orang tidak terlalu memedulikan penyakit ini. Namun bagiku ini seperti sebuah kanker. Kelupaan, itu adalah kelupaan. Mungkin kalimat tadi masih teringat olehku, namun apa jadinya ketika penyakit kelupaan itu kembali menyerang?”

“Kau saja yang terlalu berlebihan. Setiap orang juga pasti pernah lupa. Mereka tidak menganggap ‘penyakit’ itu serius karena itu adalah hal yang wajar. Meski kau memang benar-benar lupa akan orang-orang yang kau-“

“Aku benar-benar kehilangan. Menghidupkan mereka kembali mulai terdengar tidak mungkin secara harfiah.”

Kau menyadari bahwa tadi adalah dirge, tanpa orang yang menyanyi. Konduktormu benar-benar gila. Parahnya kau tidak bisa beranjak begitu saja di tengah-tengah audisi. Meski terhadap orang asing yang kehilangan tiga perempat akalnya, penghinaan tidak pantas dilontarkan kepadanya, dan kepada siapapun. Ayunan tongkat konduktor itu selama ini memang aneh, dan kau berusaha memahaminya, bermain sesuai dengan arahannya. Kau tidak lagi menjadi bagian dari orkestra di seluruh bagian kafe itu. Hanya kalian, arahannya, pikirannya, dan pikiranmu. ‘Hanya’, namun bukan berdua. Kau tenggelam di antara pemain-pemain orkestranya yang lain.

“Jika mereka berhasil kauhidupkan di hatimu, apakah kau akan hidup di hati mereka?”

“Aku juga tidak tahu.”

Kau berubah menjadi konduktor.

“Mungkin perkataanmu ada benarnya. Kita memiliki orang-orang yang mati. Tapi mungkin kita juga merupakan salah satu orang mati bagi mereka. Sedangkan aku hanya menjaga orang-orang yang masih hidup. Orang hidup yang masih menganggapku hidup.”

“Kalau kita tidak mencoba menghidupkan yang mati, mungkinkah kita akan kembali hidup bagi mereka?”

“Aku juga tidak tahu. Aku sendiri merasa risi akan ketidakpastian.”

“Mungkin itu yang dinamakan harapan.”

“Harapan, atau khayalan yang utopis?”

“Apakah itu utopis?”

“Entahlah.”

“Aku merindukan mereka, meski hanya pernah bertatap mata sekalipun. Banyak orang selain keluargaku yang berperan penting di hidupku.”

“Jika mereka berhasil kauhidupkan dan kau hidup di hati mereka, seberapa lama kau akan hidup?”

“Sampai aku mati kembali.”

“Aku tidak ingin mati. Tidak ingin dianggap mati. Karena itu aku hanya mempertahankan orang-orang yang kupercaya selalu menganggapku hidup. Aku juga memiliki orang-orang kuanggap penting di hidupku, yang kuhargai, yang kucinta. Tapi ketika mereka menghilang dan mati, aku hancur. Tetapi hidupku yang tersisa berada di orang yang lain. Yang kukira hanya mati. Dan kini aku duduk di sini, mengobrol denganmu. Apa kau telah memperhatikan mereka?”

Sesaat orang asing itu hendak menjawab, telepon genggamnya berdering. Diangkatlah telepon itu. Kau bingung. Dia menjawab, menggerakan bibirnya, namun tanpa suara. Selama 30 detik dia menelepon. Dari siapa? Apa yang dia jawab? Apa yang dia dengar? Itulah pertanyaan-pertanyaan di kepalamu saat itu.

“Aku harus pergi. Bertambah lagi satu orang yang mati,” katanya.

“Dan sebaiknya kau jaga orang-orang yang masih hidup.”

Dia bangun dari kursinya dan keluar dari kafe. Ketika kau melihat mejamu, kopi dan paimu masih tersisa banyak. Lama juga kalian mengobrol. Kau mulai menghabiskan makananmu. Di saat yang bersamaan kau berpikir: Tadi gerakan musik apa yang dia arahkan? Seberapa lama? Kau tidak sadar bahwa kau yang menjadi konduktor pada saat-saat terakhir. Setelah selesai makan, kau keluar. Sekitar sepuluh menit dari kepergian orang itu.

Kau terhenti beberapa langkah dari pintu kafe itu.

Apakah aku orang yang hidup baginya, atau mati? Apakah dia orang yang hdup bagiku, atau mati? Apa dia mencari kehidupan dari seseorang yang asing sepertiku? Apa orang-orang yang kukenal itu hidup, atau mati? Lalu aku?

Kau menoleh ke kanan dan ke kiri, siapa tahu orang itu masih ada. Tapi nyatanya tidak. Di hari-hari kemudian kau ke kafe itu lagi di waktu yang sama untuk beberapa kali, sendiri. Dia tidak datang. Dan setelah banyak kunjungan kau bertanya:

Dia siapa?

Catatan: Cerita ini dibuat berdasarkan Daily Prompt ‘Anjuran Harian’ dari WordPress yang bertemakan Hello, Stranger!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s