Arsip Bulanan: Desember 2014

Etude op. 25 no. 1 ‘Aeolian Harp’

Ketika kau terbangun dari mimpimu dan ternyata kau telah menitiskan air mata….

Tubuhmu terasa sangat ringan. Tiupan angin pagi menembus dadamu. Air embun dan air es menempel dan menyejukkan hatimu. Kau terbalut pancaran surya yang menghangatkan. Bebungaan merekah dan ibun tanah menebar aroma petrikor. Perlahan kau menengadahkan kepalamu. Paduan warna langit di pagi hari memang menakjubkan bukan? Senyumanmu terlukis dan matamu sedikit demi sedikit terpejam. Kau mulai berlari ke arah cakrawala yang pertama kali kau pandang.

Jika pada saat itu kau memikirkan kenangan terindah dalam hidupmu, kira-kira imaji apa yang kau munculkan di sana? Barangkali mengenai waktu-waktu yang kau habiskan bersama orang-orang yang kau cintai. Canda tawa, cinta kasih, dan manis pahitnya kehidupanmu bersama mereka, entah itu keluarga, teman, kekasih, bahkan orang asing yang tak sengaja ikut membaur di hidupmu. Adakalanya kau terlalu bingung manakah yang terbaik sehingga kau padukan seluruh kenangan itu menjadi satu. Kau menarik napas seketika. Udara yang kau tarik seolah-olah menyusuri labirin pembuluh darahmu. Kau tidak lagi berlari – kau dibawa terbang bersama imaji transendenmu.

Sayang sekali di tengah penerbanganmu kau sadar ternyata kau sedang bermimpi. Mereka tidak lagi bersamamu. Menyangkal realita yang ada dengan imaji yang utopis tak mempan bagimu. Saat dirimu kembali merasakan darah dan dagingmu membebani tulangmu, dadamu sesak tertusuk napas yang kau tarik. Kau terjatuh, bukan karena ragamu yang menjadi berat, namun karena jiwamu yang menanggung kejamnya ironi yang kau buat sendiri.

Punggungmu basah karena embun di atas rerumputan yang belum pula mengering meski pagi telah lama berlalu. Apa itu benar-benar embun? Atau hujan yang kau tumpahkan tadi di atas sana? Hatimu pecah bagaikan kaca – itulah mengapa air embun dan air es itu menempel. Meski begitu, jantungmu masih berdebar sangat kencang. Kau meringkuk dan mencengkeram bajumu. Cengkeramanmu tak ada bandingannya dengan belit malu yang berhasil memerasmu hingga kering kerontang.

Bukankah sangat menyedihkan? Kau merasa tak pantas menerima secercah kenangan itu sesaat kau menyia-nyiakannya? Seberat inikah penyesalanmu? Waktu kau lihat kembali kenangan-kenangan itu hatimu tersengal tawa kecilmu. Kenangan yang kauimpikan dalam benakmu rasanya terlalu berat ditanggung oleh hatimu. Hatimu terpukul olehnya dan menjadi pilu untuk beberapa waktu.

Kini, yang ingin kau lakukan hanyalah pergi jauh dari tempat ini. Semerbak angin di sana menjadi terlalu manis bagimu. Terlalu indah, terlalu mengikat, terlalu menyedihkan. Entah bagaimana caramu untuk keluar dari sana. Kau terbangun dan tertunduk, kemudian menoleh ke arah matahari di belakangmu. Dengan lembutnya kaulihat panorama sepanjang cakrawala dalam putaran 360 derajat. Ya, kau akui memang indah. Barangkali seperti inilah isi hatimu ketika momen-momen indah itu terjadi. Barangkali juga kau tersadar bahwa yang kauhilangkan tidak mungkin kembali. Apa ini artinya kau boleh untuk melupakannya?

Sebelum kau sempat menjawab pertanyaan itu, angin berhasil menerpamu lebih dulu. Angin itu tak hanya membawa kesejukan, tapi juga sebuah alunan nada yang belum kau dengar sebelumnya. Keduanya cukup manis bagi hatimu dan telingamu.

Tak lama keduanya berhenti dan kau terbangun. Mungkin saja suara angin itu yang membuatmu menitiskan air mata.

Catatan : Aeolian Harp ‘Harpa Aeolian’ adalah satu-satunya alat musik dawai yang dimainkan oleh angin (tidak ditiup manusia).

Iklan