Arsip Penulis: winterlite_23

Menulis dan Mengetik

Write

Sebagai balasan terhadap anjuran menulis (writing prompt) The Daily Post: “Pens and Pencils.”

Jari-jemari saya tidak pernah terlepas dari tuts papan ketik setiap harinya – bisa dibilang saya diperbudak oleh laptop dan internet. Kebiasaan ini membuat saya jauh dari media kertas dan alat tulis konvensional pada umumnya. Untuk beberapa konteks (seperti konteks ini), saya membedakan definisi menulis dan mengetik, walau saya tahu keduanya membentuk sebuah tulisan dan mengetik adalah menulis dengan menggunakan mesin tik. Ini hanya definisi pribadi :

Menulis (writing [by hand]maksudnya membuat huruf dengan alat tulis yang dipegang (pena, pensil, kapur, dll.), sementara mengetik (typingdengan mesin tik atau papan ketik.

Apabila hal substansial yang dimaksud termasuk hal-hal yang berbau perkuliahan seperti Ujian Akhir Semester (UAS) tiga minggu yang lalu, jawaban UAS pada mata kuliah Dasar Manajemen-lah yang paling (saya rasa) substansial. Saya gagal pada Ujian Tengah Semester (UTS) lalu pada mata kuliah ini dengan perasaan ironis saya yang telah menuliskan jawaban benar. Kepercayaan diri saya pada UAS mata kuliah ini (dibandingkan dengan yang lain) membuat saya merasa sangat terpenuhi meskipun bisa saja ternyata kepercayaan itu mengkhianati saya (tapi saya sangat yakin kali ini).

Di luar hal perkuliahan, tulisan yang dimaksud adalah ucapan selamat ulang tahun beserta hadiah yang hendak saya kirimkan kepada teman saya. Dua Desember yang lalu, dia mengirimkan saya hadiah serta surat ucapan dan saya merasa bertanggung jawab untuk membalasnya sebagai bentuk terima kasih. Di sini konsep sempit “kebaikan dibalas dengan kebaikan” mengalir dalam otak saya. Meskipun gratitude differs from responsibility (kutipan yang saya ambil dari anime), sepertinya tidak perlu saya kaitkan dengan hal “sepele” seperti hadiah ulang tahun. Pada akhirnya saya rasa hadiah yang hendak saya berikan kurang cocok dengannya dan tulisan saya (kasarnya) masih aneh. Hingga saat ini, saya belum mengganti hadiah tersebut, apalagi menulis ucapan dan memberikannya.

Kebiasaan lama saya adalah membeli buku-buku tulis yang bersampul menarik dengan motif menuliskan sesuatu yang berharga di dalamnya – seperti kumpulan puisi, cerpen, dan jurnal berbalut gula (sugarcoated). Buku yang bagus harus berisikan tulisan yang bagus pula dari segi sistematika, tipografi, diksi, dan konten . Setelah buku tersebut selesai bergeser ke ujung meja kasir, saya tidak pernah menuliskan buah tulisan idealis yang saya pikirkan. Saya tidak menyukai coretan dan tinta koreksi dalam buku yang bagus itu, dan saya terlalu malas menulis ganda (dengan pensil lalu ditebalkan dengan pulpen), sementara temperamen penghapus saya tinggi. Ya, buku-buku itu tetap kosong dan menumpuk.

Setelah mengenal dunia pengetikan dan blogging lebih dalamsaya lebih memercayakan keamatiran tulisan saya di sini. Komputer, Microsoft Office, WordPress, backspace, “Ctrl+Z” adalah substitusi kertas, pena, dan penghapus/tinta koreksi yang lebih ramah lingkungan (mungkin juga tidak karena listrik yang terbuang). Namun, bukan berarti tulisan saya menjadi lebih baik karenanya — mungkin lebih efisien.

Meskipun begitu, saya tetap mengakui bahwa ada hal-hal yang dimiliki menulis dibandingkan mengetikFont unik kita — yang tidak ada di koleksi Microsoft Office — menggambarkan kepribadian kita dan keragaman manusia. Fleksibilitas penulisan juga lebih tinggi. Kita bisa menggambar dengan bebas di antara tulisan kita bukan? Kesungguhan seorang penulis dalam kondisi tertentu juga lebih dihargai dalam menulis. Mana yang lebih romantis? Surat cinta tulisan sendiri atau yang hasil cetak? Tentunya bergantung pada keindahan tulisan penulis haha.

Terlepas dari semua itu, faktanya saya tetap menghabiskan waktu lebih banyak di atas papan ketik. Apabila saya harus kembali ke masa sebelum ditemukannya teknologi mengetik, saya rasa saya perlu menambahkan satu rak tambahan dalam rumah saya.

Sumber Gambar : Sarah Reid

Etude op. 25 no. 1 ‘Aeolian Harp’

Ketika kau terbangun dari mimpimu dan ternyata kau telah menitiskan air mata….

Tubuhmu terasa sangat ringan. Tiupan angin pagi menembus dadamu. Air embun dan air es menempel dan menyejukkan hatimu. Kau terbalut pancaran surya yang menghangatkan. Bebungaan merekah dan ibun tanah menebar aroma petrikor. Perlahan kau menengadahkan kepalamu. Paduan warna langit di pagi hari memang menakjubkan bukan? Senyumanmu terlukis dan matamu sedikit demi sedikit terpejam. Kau mulai berlari ke arah cakrawala yang pertama kali kau pandang.

Jika pada saat itu kau memikirkan kenangan terindah dalam hidupmu, kira-kira imaji apa yang kau munculkan di sana? Barangkali mengenai waktu-waktu yang kau habiskan bersama orang-orang yang kau cintai. Canda tawa, cinta kasih, dan manis pahitnya kehidupanmu bersama mereka, entah itu keluarga, teman, kekasih, bahkan orang asing yang tak sengaja ikut membaur di hidupmu. Adakalanya kau terlalu bingung manakah yang terbaik sehingga kau padukan seluruh kenangan itu menjadi satu. Kau menarik napas seketika. Udara yang kau tarik seolah-olah menyusuri labirin pembuluh darahmu. Kau tidak lagi berlari – kau dibawa terbang bersama imaji transendenmu.

Sayang sekali di tengah penerbanganmu kau sadar ternyata kau sedang bermimpi. Mereka tidak lagi bersamamu. Menyangkal realita yang ada dengan imaji yang utopis tak mempan bagimu. Saat dirimu kembali merasakan darah dan dagingmu membebani tulangmu, dadamu sesak tertusuk napas yang kau tarik. Kau terjatuh, bukan karena ragamu yang menjadi berat, namun karena jiwamu yang menanggung kejamnya ironi yang kau buat sendiri.

Punggungmu basah karena embun di atas rerumputan yang belum pula mengering meski pagi telah lama berlalu. Apa itu benar-benar embun? Atau hujan yang kau tumpahkan tadi di atas sana? Hatimu pecah bagaikan kaca – itulah mengapa air embun dan air es itu menempel. Meski begitu, jantungmu masih berdebar sangat kencang. Kau meringkuk dan mencengkeram bajumu. Cengkeramanmu tak ada bandingannya dengan belit malu yang berhasil memerasmu hingga kering kerontang.

Bukankah sangat menyedihkan? Kau merasa tak pantas menerima secercah kenangan itu sesaat kau menyia-nyiakannya? Seberat inikah penyesalanmu? Waktu kau lihat kembali kenangan-kenangan itu hatimu tersengal tawa kecilmu. Kenangan yang kauimpikan dalam benakmu rasanya terlalu berat ditanggung oleh hatimu. Hatimu terpukul olehnya dan menjadi pilu untuk beberapa waktu.

Kini, yang ingin kau lakukan hanyalah pergi jauh dari tempat ini. Semerbak angin di sana menjadi terlalu manis bagimu. Terlalu indah, terlalu mengikat, terlalu menyedihkan. Entah bagaimana caramu untuk keluar dari sana. Kau terbangun dan tertunduk, kemudian menoleh ke arah matahari di belakangmu. Dengan lembutnya kaulihat panorama sepanjang cakrawala dalam putaran 360 derajat. Ya, kau akui memang indah. Barangkali seperti inilah isi hatimu ketika momen-momen indah itu terjadi. Barangkali juga kau tersadar bahwa yang kauhilangkan tidak mungkin kembali. Apa ini artinya kau boleh untuk melupakannya?

Sebelum kau sempat menjawab pertanyaan itu, angin berhasil menerpamu lebih dulu. Angin itu tak hanya membawa kesejukan, tapi juga sebuah alunan nada yang belum kau dengar sebelumnya. Keduanya cukup manis bagi hatimu dan telingamu.

Tak lama keduanya berhenti dan kau terbangun. Mungkin saja suara angin itu yang membuatmu menitiskan air mata.

Catatan : Aeolian Harp ‘Harpa Aeolian’ adalah satu-satunya alat musik dawai yang dimainkan oleh angin (tidak ditiup manusia).

Crisp

Saya menyukai permainan piano yang cepat dan bernada tinggi. Saking sukanya saya tidak bisa membayangkan cepatnya jemari yang memainkannya. Energetik dan subtil. Bagi saya itu merupakan sebuah harmoni. Ditambah dengan alunan serulingnya yang seakan mengundang pertanyaan kepada pendengar.

Lagu ini mengingatkan saya pada Fantaisie Impromptu-nya Chopin dan Hungarian Rhapsody No. 2-nya Liszt. Apakah musik ini merupakan aransemen dari musik klasik yang tidak saya ketahui? Insting ini juga pernah menembakkannya ke lagu-lagu yang lain. Yah, lagu-lagu berinstrumen piano, alat musik tiup, ataupun gesek menjadi “korban penembakan” itu (karena lagu yang dimaksud sesuai dengan selera musik klasik saya, seperti Pavane dalam mesin Pump It Up).

Jika Crisp dijadikan sebuah soundtrack film atau trailer, dengan genre psycho-thriller, mystery, atau semacam slice of life, film ini akan berkisah mengenai seseorang yang gundah mencari jati dirinya. Tanpa ia sadari, sesuatu telah mengubahnya 180 derajat (pohon). Dalam ratapannya, fragmen-fragmen ingatan hidupnya terilustrasikan (dedaunan yang gugur). Manis-pahit hidupnya akan terlihat (lilin) dan tentunya menjawab “apa” dan “mengapa” yang ia tanyakan (akar pohon). Biasanya terkait dengan hubungan si tokoh dengan orang-orang dekat di sekitarnya.

Gagasan kasar. Belum terdetailkan. Simply an idea of nowhere. Mungkin Anda dapat mengembangkannya lebih lanjut. Bagaimana?

Catatan :

Crisp : (of a way of speaking or writing) briskly decisive and matter-of-fact, without hesitation or unnecessary detail ; (of the weather) cool, fresh, and invigorating.

Kenaifan

Suatu bentuk kenaifan di masa lalu bisa saja telah berhasil menyembunyikan bagian-bagian kehidupan kita. Ketika bagian-bagian tersebut disatukan, gambaran yang terbentuk memengaruhi pola pikir kita, bergantung pada bagian hidup mana yang muncul di gambar tersebut.

Sewaktu SD, saya memiliki kenalan yang baik sekali. Saya biasa memanggilnya dengan awalan “Kak”. Saya selalu senang tiap kali dia datang, baik untuk bermain maupun belajar. Dia telah mengajari saya berbagai hal yang tidak sempat diajarkan orang tua saya – tipikal dengan pebisnis-pebisnis yang super sibuk, seperti mengaji dan sedikit bahasa Jepang. Dia adalah salah satu sumber kebahagiaan saya yang berharga.

Beberapa tahun kemudian dengan alasan tertentu keluarga saya tidak menyukainya. Padahal dia selalu baik kepada saya, berseteru pun tidak pernah. Saya tidak merasa bermasalah dengannya. Mengapa dia dikatakan jahat? Mengapa dia dikatakan seorang “nenek sihir”? Mungkin ini ada kaitannya dengan bisnis tapi tentu saja sebagai anak kecil itu belum terpikirkan. Tanpa saya sadari, dia tidak pernah datang kemari lagi untuk waktu yang lama. Hilangnya sumber kebahagiaan saya merupakan tanda tanya besar sebagai anak kecil, meskipun tidak berarti apa-apa bagi orang dewasa – saya tidak ingin mereka tahu.

Saya tidak ingin percaya kalau itu benar. Persepsi saya menjadi rancu. Di saat yang sama saya belajar untuk membenci. Apakah itu berhasil? Saya tidak tahu.

Selain dia, kenalan yang satu ini juga tidak kalah baiknya. Ia adalah rekan kerja ibu saya yang kerjanya di luar negeri. Saya memanggilnya dengan awalan “Tante”. Ia mengunjungi beberapa kali, tentunya masalah bisnis. Saya akrab dengannya. Ia juga sangat baik hingga saya percaya bahwa seburuk apapun yang saya lakukan dia tidak akan marah walau hipotesis tersebut sangat tidak masuk akal. Saya ingat dalam kunjungannya yang terakhir ia membawa Assorted Chocolates. Kalengnya berbentuk tabung (atau prisma?) beralas oval yang runcing. Cokelatnya juga berbentuk oval. Dan ketika ia pulang ke Bombay pada malam hari saya menangis di bandara. Pulangnya, saya membeli brownies cokelat dan saya terkena demam karena kecapaian.

Sampai saat ini, saya belum pernah bertemu dengannya lagi. Saya penasaran apa alasannya, hingga beberapa tahun lalu saya mendengar pembicaraan orang tua saya bahwa ini gara-gara dia. Dan lucunya, saya baru tahu kalau ia membenci keluarga saya semenjak dia dianggap seorang “nenek sihir yang jahat”. Lelucon ini berakar dari masalah orang dewasa yang tidak saya mengerti. Entah apapun itu saya tidak ingin dan tidak perlu tahu karena tertawa hingga mati itu terlalu ironis bagi saya.  Sementara sisi lain saya yang lebih realistis bergumam: Saya menghindari kenyataan.

Sesungguhnya saya sangat tidak ingin percaya. Saya tidak ingin percaya bahwa sebaik-baiknya susu, ketika basi dan dicampurkan ke susu lain, keduanya menjadi beracun. Saya tidak ingin percaya bahwa kebahagiaan itu berkhianat. Saya ingin mengganggapnya itu hanyalah mimpi di masa kecil yang terbias ke dalam arsip realitas di otak saya. Mereka tidak pernah ada di kehidupan saya. Pada titik ini, saya berpikir tidak bahagia akan seseorang lebih baik daripada bahagia namun dikhianati oleh perasaan itu sendiri di kemudian hari – klise sekali.

Apakah saya membenci dia? Saya masih tidak tahu. Ketimbang pusing, lebih baik dia tidak lagi berurusan dengan saya. Ada saat-saat tertentu ketika saya menanggap kebencian itu sesuatu yang melelahkan. Apa lacur, saya benar-benar mengutuk kenaifan ini.

Hari Esok

Oleh : Muhammad Fahmi Lubis

Hari esok

Ketika surya benderang

Ketika candra berlinang

Ketika netra mengerling

Dan hati dan jam mendentang

Sehari lagi

Hari esok

Ketika napas berdesakan

Ketika darah berhiliran

Ketika nadi berdenyut

Dan wajah dan senyum berkerut

Lebih lama

Hari esok

Cahaya mimpi

Dan misteri

Dan mirakel

Terpendam dalam bayangan hati

Melamun ternanti-nanti

* * *

Catatan: To the Moon adalah sebuah RPG (Role Playing Game) yang dibuat tahun 2011 oleh Freebird Games. Berkisah mengenai Johnny, seorang pasien yang sekarat, yang meminta Dr. Watts dan Dr. Eva membuat memori artifisial (ingatan buatan) sebagai pemenuhan impiannya untuk pergi ke bulan.

Tomorrow ‘Hari Esok’ adalah salah satu musik favorit saya dalam game ini. Musik ini paling mengesankan saat diputar pada adegan penghujung – peluncuran roket yang membawa Johnny dan River (mendiang istrinya) ke bulan.

Keasingan

Trattoria-Mercatto

oleh Muhammad Fahmi Lubis

Kau memutuskan untuk berkunjung ke kafe baru di kota itu – dianggap baru karena kau memang belum pernah ke sana. Arsitektur klasiknya, tanaman hiasnya yang mencolok, dan beberapa meja kursi yang kaulihat dari jendela berhasil mengundangmu untuk masuk. Sedikit ramai, ada beberapa meja kosong yang langsung berada dalam pandanganmu ketika kau melewati pintu dan beberapa ‘kring’ terdengar. Kau menunggu dengan orkestra percakapan orang-orang yang lalu-lalang di kepalamu. Tak lama pesananmu datang, yang kaupikir sebagai standar sebuah kafe, dilihat dari menu ini: kopi dan pai. Baru saja kau memegang cangkir kopi tersebut, seseorang memegang pundakmu.

“Permisi, boleh saya tahu nama Anda?”

Dengan refleks kau menjawab.

Dia mengangguk sebentar. “Aku sudah lama mencari-carimu.”

Baca lebih lanjut