Arsip Kategori: Jurnal

Menulis dan Mengetik

Write

Sebagai balasan terhadap anjuran menulis (writing prompt) The Daily Post: “Pens and Pencils.”

Jari-jemari saya tidak pernah terlepas dari tuts papan ketik setiap harinya – bisa dibilang saya diperbudak oleh laptop dan internet. Kebiasaan ini membuat saya jauh dari media kertas dan alat tulis konvensional pada umumnya. Untuk beberapa konteks (seperti konteks ini), saya membedakan definisi menulis dan mengetik, walau saya tahu keduanya membentuk sebuah tulisan dan mengetik adalah menulis dengan menggunakan mesin tik. Ini hanya definisi pribadi :

Menulis (writing [by hand]maksudnya membuat huruf dengan alat tulis yang dipegang (pena, pensil, kapur, dll.), sementara mengetik (typingdengan mesin tik atau papan ketik.

Apabila hal substansial yang dimaksud termasuk hal-hal yang berbau perkuliahan seperti Ujian Akhir Semester (UAS) tiga minggu yang lalu, jawaban UAS pada mata kuliah Dasar Manajemen-lah yang paling (saya rasa) substansial. Saya gagal pada Ujian Tengah Semester (UTS) lalu pada mata kuliah ini dengan perasaan ironis saya yang telah menuliskan jawaban benar. Kepercayaan diri saya pada UAS mata kuliah ini (dibandingkan dengan yang lain) membuat saya merasa sangat terpenuhi meskipun bisa saja ternyata kepercayaan itu mengkhianati saya (tapi saya sangat yakin kali ini).

Di luar hal perkuliahan, tulisan yang dimaksud adalah ucapan selamat ulang tahun beserta hadiah yang hendak saya kirimkan kepada teman saya. Dua Desember yang lalu, dia mengirimkan saya hadiah serta surat ucapan dan saya merasa bertanggung jawab untuk membalasnya sebagai bentuk terima kasih. Di sini konsep sempit “kebaikan dibalas dengan kebaikan” mengalir dalam otak saya. Meskipun gratitude differs from responsibility (kutipan yang saya ambil dari anime), sepertinya tidak perlu saya kaitkan dengan hal “sepele” seperti hadiah ulang tahun. Pada akhirnya saya rasa hadiah yang hendak saya berikan kurang cocok dengannya dan tulisan saya (kasarnya) masih aneh. Hingga saat ini, saya belum mengganti hadiah tersebut, apalagi menulis ucapan dan memberikannya.

Kebiasaan lama saya adalah membeli buku-buku tulis yang bersampul menarik dengan motif menuliskan sesuatu yang berharga di dalamnya – seperti kumpulan puisi, cerpen, dan jurnal berbalut gula (sugarcoated). Buku yang bagus harus berisikan tulisan yang bagus pula dari segi sistematika, tipografi, diksi, dan konten . Setelah buku tersebut selesai bergeser ke ujung meja kasir, saya tidak pernah menuliskan buah tulisan idealis yang saya pikirkan. Saya tidak menyukai coretan dan tinta koreksi dalam buku yang bagus itu, dan saya terlalu malas menulis ganda (dengan pensil lalu ditebalkan dengan pulpen), sementara temperamen penghapus saya tinggi. Ya, buku-buku itu tetap kosong dan menumpuk.

Setelah mengenal dunia pengetikan dan blogging lebih dalamsaya lebih memercayakan keamatiran tulisan saya di sini. Komputer, Microsoft Office, WordPress, backspace, “Ctrl+Z” adalah substitusi kertas, pena, dan penghapus/tinta koreksi yang lebih ramah lingkungan (mungkin juga tidak karena listrik yang terbuang). Namun, bukan berarti tulisan saya menjadi lebih baik karenanya — mungkin lebih efisien.

Meskipun begitu, saya tetap mengakui bahwa ada hal-hal yang dimiliki menulis dibandingkan mengetikFont unik kita — yang tidak ada di koleksi Microsoft Office — menggambarkan kepribadian kita dan keragaman manusia. Fleksibilitas penulisan juga lebih tinggi. Kita bisa menggambar dengan bebas di antara tulisan kita bukan? Kesungguhan seorang penulis dalam kondisi tertentu juga lebih dihargai dalam menulis. Mana yang lebih romantis? Surat cinta tulisan sendiri atau yang hasil cetak? Tentunya bergantung pada keindahan tulisan penulis haha.

Terlepas dari semua itu, faktanya saya tetap menghabiskan waktu lebih banyak di atas papan ketik. Apabila saya harus kembali ke masa sebelum ditemukannya teknologi mengetik, saya rasa saya perlu menambahkan satu rak tambahan dalam rumah saya.

Sumber Gambar : Sarah Reid

Kenaifan

Suatu bentuk kenaifan di masa lalu bisa saja telah berhasil menyembunyikan bagian-bagian kehidupan kita. Ketika bagian-bagian tersebut disatukan, gambaran yang terbentuk memengaruhi pola pikir kita, bergantung pada bagian hidup mana yang muncul di gambar tersebut.

Sewaktu SD, saya memiliki kenalan yang baik sekali. Saya biasa memanggilnya dengan awalan “Kak”. Saya selalu senang tiap kali dia datang, baik untuk bermain maupun belajar. Dia telah mengajari saya berbagai hal yang tidak sempat diajarkan orang tua saya – tipikal dengan pebisnis-pebisnis yang super sibuk, seperti mengaji dan sedikit bahasa Jepang. Dia adalah salah satu sumber kebahagiaan saya yang berharga.

Beberapa tahun kemudian dengan alasan tertentu keluarga saya tidak menyukainya. Padahal dia selalu baik kepada saya, berseteru pun tidak pernah. Saya tidak merasa bermasalah dengannya. Mengapa dia dikatakan jahat? Mengapa dia dikatakan seorang “nenek sihir”? Mungkin ini ada kaitannya dengan bisnis tapi tentu saja sebagai anak kecil itu belum terpikirkan. Tanpa saya sadari, dia tidak pernah datang kemari lagi untuk waktu yang lama. Hilangnya sumber kebahagiaan saya merupakan tanda tanya besar sebagai anak kecil, meskipun tidak berarti apa-apa bagi orang dewasa – saya tidak ingin mereka tahu.

Saya tidak ingin percaya kalau itu benar. Persepsi saya menjadi rancu. Di saat yang sama saya belajar untuk membenci. Apakah itu berhasil? Saya tidak tahu.

Selain dia, kenalan yang satu ini juga tidak kalah baiknya. Ia adalah rekan kerja ibu saya yang kerjanya di luar negeri. Saya memanggilnya dengan awalan “Tante”. Ia mengunjungi beberapa kali, tentunya masalah bisnis. Saya akrab dengannya. Ia juga sangat baik hingga saya percaya bahwa seburuk apapun yang saya lakukan dia tidak akan marah walau hipotesis tersebut sangat tidak masuk akal. Saya ingat dalam kunjungannya yang terakhir ia membawa Assorted Chocolates. Kalengnya berbentuk tabung (atau prisma?) beralas oval yang runcing. Cokelatnya juga berbentuk oval. Dan ketika ia pulang ke Bombay pada malam hari saya menangis di bandara. Pulangnya, saya membeli brownies cokelat dan saya terkena demam karena kecapaian.

Sampai saat ini, saya belum pernah bertemu dengannya lagi. Saya penasaran apa alasannya, hingga beberapa tahun lalu saya mendengar pembicaraan orang tua saya bahwa ini gara-gara dia. Dan lucunya, saya baru tahu kalau ia membenci keluarga saya semenjak dia dianggap seorang “nenek sihir yang jahat”. Lelucon ini berakar dari masalah orang dewasa yang tidak saya mengerti. Entah apapun itu saya tidak ingin dan tidak perlu tahu karena tertawa hingga mati itu terlalu ironis bagi saya.  Sementara sisi lain saya yang lebih realistis bergumam: Saya menghindari kenyataan.

Sesungguhnya saya sangat tidak ingin percaya. Saya tidak ingin percaya bahwa sebaik-baiknya susu, ketika basi dan dicampurkan ke susu lain, keduanya menjadi beracun. Saya tidak ingin percaya bahwa kebahagiaan itu berkhianat. Saya ingin mengganggapnya itu hanyalah mimpi di masa kecil yang terbias ke dalam arsip realitas di otak saya. Mereka tidak pernah ada di kehidupan saya. Pada titik ini, saya berpikir tidak bahagia akan seseorang lebih baik daripada bahagia namun dikhianati oleh perasaan itu sendiri di kemudian hari – klise sekali.

Apakah saya membenci dia? Saya masih tidak tahu. Ketimbang pusing, lebih baik dia tidak lagi berurusan dengan saya. Ada saat-saat tertentu ketika saya menanggap kebencian itu sesuatu yang melelahkan. Apa lacur, saya benar-benar mengutuk kenaifan ini.