Arsip Tag: Kehidupan

Kenaifan

Suatu bentuk kenaifan di masa lalu bisa saja telah berhasil menyembunyikan bagian-bagian kehidupan kita. Ketika bagian-bagian tersebut disatukan, gambaran yang terbentuk memengaruhi pola pikir kita, bergantung pada bagian hidup mana yang muncul di gambar tersebut.

Sewaktu SD, saya memiliki kenalan yang baik sekali. Saya biasa memanggilnya dengan awalan “Kak”. Saya selalu senang tiap kali dia datang, baik untuk bermain maupun belajar. Dia telah mengajari saya berbagai hal yang tidak sempat diajarkan orang tua saya – tipikal dengan pebisnis-pebisnis yang super sibuk, seperti mengaji dan sedikit bahasa Jepang. Dia adalah salah satu sumber kebahagiaan saya yang berharga.

Beberapa tahun kemudian dengan alasan tertentu keluarga saya tidak menyukainya. Padahal dia selalu baik kepada saya, berseteru pun tidak pernah. Saya tidak merasa bermasalah dengannya. Mengapa dia dikatakan jahat? Mengapa dia dikatakan seorang “nenek sihir”? Mungkin ini ada kaitannya dengan bisnis tapi tentu saja sebagai anak kecil itu belum terpikirkan. Tanpa saya sadari, dia tidak pernah datang kemari lagi untuk waktu yang lama. Hilangnya sumber kebahagiaan saya merupakan tanda tanya besar sebagai anak kecil, meskipun tidak berarti apa-apa bagi orang dewasa – saya tidak ingin mereka tahu.

Saya tidak ingin percaya kalau itu benar. Persepsi saya menjadi rancu. Di saat yang sama saya belajar untuk membenci. Apakah itu berhasil? Saya tidak tahu.

Selain dia, kenalan yang satu ini juga tidak kalah baiknya. Ia adalah rekan kerja ibu saya yang kerjanya di luar negeri. Saya memanggilnya dengan awalan “Tante”. Ia mengunjungi beberapa kali, tentunya masalah bisnis. Saya akrab dengannya. Ia juga sangat baik hingga saya percaya bahwa seburuk apapun yang saya lakukan dia tidak akan marah walau hipotesis tersebut sangat tidak masuk akal. Saya ingat dalam kunjungannya yang terakhir ia membawa Assorted Chocolates. Kalengnya berbentuk tabung (atau prisma?) beralas oval yang runcing. Cokelatnya juga berbentuk oval. Dan ketika ia pulang ke Bombay pada malam hari saya menangis di bandara. Pulangnya, saya membeli brownies cokelat dan saya terkena demam karena kecapaian.

Sampai saat ini, saya belum pernah bertemu dengannya lagi. Saya penasaran apa alasannya, hingga beberapa tahun lalu saya mendengar pembicaraan orang tua saya bahwa ini gara-gara dia. Dan lucunya, saya baru tahu kalau ia membenci keluarga saya semenjak dia dianggap seorang “nenek sihir yang jahat”. Lelucon ini berakar dari masalah orang dewasa yang tidak saya mengerti. Entah apapun itu saya tidak ingin dan tidak perlu tahu karena tertawa hingga mati itu terlalu ironis bagi saya.  Sementara sisi lain saya yang lebih realistis bergumam: Saya menghindari kenyataan.

Sesungguhnya saya sangat tidak ingin percaya. Saya tidak ingin percaya bahwa sebaik-baiknya susu, ketika basi dan dicampurkan ke susu lain, keduanya menjadi beracun. Saya tidak ingin percaya bahwa kebahagiaan itu berkhianat. Saya ingin mengganggapnya itu hanyalah mimpi di masa kecil yang terbias ke dalam arsip realitas di otak saya. Mereka tidak pernah ada di kehidupan saya. Pada titik ini, saya berpikir tidak bahagia akan seseorang lebih baik daripada bahagia namun dikhianati oleh perasaan itu sendiri di kemudian hari – klise sekali.

Apakah saya membenci dia? Saya masih tidak tahu. Ketimbang pusing, lebih baik dia tidak lagi berurusan dengan saya. Ada saat-saat tertentu ketika saya menanggap kebencian itu sesuatu yang melelahkan. Apa lacur, saya benar-benar mengutuk kenaifan ini.